Sebuah Angan-angan Tentang Pelestarian Wayang

Kayon Solo (Kreasi Ki Demang)
Ditulis oleh: Ki Dhalang Sulang
Pada Kategori : Seni Budaya, Dunia Wayang, Hiburan
Wayang adalah salah satu warisan budaya luhur nenek moyang kita bangsa Indonesia. Hal ini tidak saja diakui, dirasakan, dan dilakukan oleh pecinta wayang di bumi Nuswantara, akan tetapi juga sudah diakui oleh masyarakat sejagad.
Sejak zaman dahulu kala hingga masa kini, para pemerhati wayang baik yang berasal dari dunia barat maupun timur tak henti-hentinya untuk selalu berusaha mengenal, meneliti, bahkan menjadi pelaku budaya dunia pewayangan. Para pakar tersebut berasal dari Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Belgia, Perancis, Kanada, Spanyol, Italia, Rusia, India, RRC, Korea, Jepang, Thailand, Kampuchea, Australia, Selandia Baru, dan lain-lain.
Masyarakat seluruh dunia bahkan telah mengakui secara formal tentang keberadaan dan status wayang ini, melalui suatu deklarasi Paris pada tahun 2002. Isi deklarasi tersebut antara lain pernyataan bahwa “WAYANG ADALAH WARISAN BUDAYA AGUNG DUNIA”. Sebelum dideklarasikan didahului oleh pergelaran Wayang dengan Ki Dhalang Manteb Soedarsono, dengan cerita pilihan ” Bima Sakti”.
Ironisnya, kita sebagai generasi pewaris langsung seni budaya yang adi luhung ini, semakin hari justru semakin jauh dari dunia pewayangan. Nah! berawal dari paparan di atas, ditambah dengan dengan sentilan-sentilan maut para sahabat blogger Nusantara, antara lain: Muhammad Sholahuddin Nur Azmy (Sulang Online), Lisa Febriyanti (LadangKata), Sawali Tuhusetya (Pak Guru), Dusone, Cah Pasar bersaudara, Didik Salambanu, Dwiyoga Nugroho, Kang Tarom (Kamituwo), Agus Wahyudi (Gus Gobang), Sabdopalon, Wowod (Damarangkoso’s Blog), Ndura (Benowoprabandaru’s Blog), Pak Totok (yc2tdp), Winsolu, dan sahabat-sahabat lainnya, maka blog ini diharapkan dapat dijadikan sebagai wahana dan sarana untuk curah ungkap, diskusi, masukan, obsesi tentang seni dan budaya, yang di dalamnya termasuk dunia pewayangan. Untuk itulah diharapkan blog ini mendapat dukungan positif dari para blogger di seluruh bumi Nusantara tercinta, bahkan kalau mungkin blogger se jagad raya. Mungkinkah?******
4 Maret 2009 pukul 12:45 pm
Sesuatu yang besar selalu dimulai dari satu langkah kecil…
Jika Tuhan mengizinkan, maka segalanya mungkin terjadi. Dalam setiap keinginan, yang paling kuat mendasari adalah cinta. Cinta akan menumbuhkan komitmen dan konsistensi pada apa yang dilakukan. Saya yakin, kecintaan Ki Dhalang dalam bidang seni dan budaya sudah menjadi modal yang cukup untuk memulai mimpi besar itu…mendongenglah dengan cinta*..:)
Terus mendukung
Terus menanti tulisan-tulisan panjenengan
*cinta yang saya maksud di sini adalah kekuatan universal dalam diri akan sesuatu, misalnya seni dan budaya.
@Mbak Icha: Matur suwun masukannya. Ini akan saya catat betul di kalbu (he he he). Mohon doa restu dan suportnya, biar saya dapat seperti Anda dalam mewujudkan obsesi dan cita-cita. Tak harus berhenti di depan Gapura Bajang Ratu to? ha ha ha ha ha……..
4 Maret 2009 pukul 4:25 pm
selamat malam pak Djup, senang sekali bisa mengunjungi pak Djup, lebih senang lagi bisa melihat wajah pak Djup yang ternyata masih seperti yang dulu dengan ciri khas tahi lalat diatas mata kanan, bedanya kok sekarang rambutnya banyak yang putih ya?? pak Djup memang piawai sebagai dalang kondang di sulang, dan sangat peduli dengan budaya kita. saya salut, hormat, dan bangga punya sahabat seperti Bapak Djuprianto.
@Pak Gun di Serang: Sembah nuwun sembah nuwun atas suportnya. Wah, wah, wah, kadang saya jadi “lingsem” loh, Pak Gun, gimana ya? tuwa-tuwa kok malah kayak remaja, jadi blogger (ha ha ha ha). Tapi banyak juga kok blogger blogger manula, misalnya Bapak Kyai Kita Gus Mus dan para sahabatnya juga getol mblogger loh.
Tentang rambut yang nggak mau kompromi ini, abiz gimana lagi ya? kayaknya saya sudah nunggu cukup lama loh, untuk metamorfosisnya rambut ini, hi hi hi hi… Salam nggih, buat segenap keluarga di Banten. Monggo kalok Pak Gun kersa bercandaria lewat website. Oh ya, PakGun, tanpa dinyana blognya cah Sulang (Sulang Online) kok jadi juara I BBC09 nggih. Semoga ini menjadikan berkah bagi warga Sulang yang di Sulang dan warga Sulang yang di luar Sulang. Okai Boss. Saya tunggu masukan Anda seterusnya (Ki Dhalang Sulang)
8 Maret 2009 pukul 7:13 am
pak Kidh, karena saya ya ndak tahu banyak tentang dunia pewayangan; jadinya ya saya cuma bisa ngirimi masukan atau apa yang kira-kira bisa nambahi inspirasi njenengan agar “Kelir on-line”nya segera tayang. he..3x.
ini saya kirim link website, mungkin Ki Dhalang bisa ambil perbandingannya
http://www.pitoyo.com/duniawayang
eng ing e……eng
@Ki Sabdopalon: Sembah nuwun atas masukan-masukannya. Pasti sangat bermanfaat untuk saya. Setidak-tidaknya saya semakin tambah pengetahuan dan pengalaman, khususnya di dunia cyber ini. Infonya tentang link website wayangan makasih banget ya, wah! jebul dunia maia luasnya kayak gini ya, ck ck ck ck ck. rasanya waktu terlalu sedikit untuk sekedar jalan-jalan santai di dalamnya, apa lagi jalan-jalan yang agak serius, wah wah wah! Jan betul-betul harus ada manajemen waktu yang serius juga.
Oh ya, Ki Sabdopalon apa sudah meluangkan waktu untuk bangun blog sendiri Ya, kalok sudah saya mbok dikasih http-nya, biar tambah keren sambungrasa kita heheheheh……. Salam untuk Mbak PQ sekalian si moniknya….. (Ki Dhalang Sulang)
8 Maret 2009 pukul 8:06 am
Setuju pak Kidh, harus ada manajemen waktu yang serius dan tepat.
Ini saya pake tunggangan blog saya. jangan di-ece ya, agak lama belum saya up-date lagi tulisannya, dan saya juga lagi belajar nulis. Jadinya…. ya masih seperti inilah tunggangannya.
Salam juga untuk Ki Dhalang sekeluarga.
Tetap Semangat.
=sp=
@Humaisma: Lha rak opo to! Saya memang sudah curiga dengan website Humanisma. Saya juga sudah sering nginjen-nginjen karena sudah lama dilink pada web kesayangan kita (Sulang Online). Okai okai okai, rasanya saya tambah semangat, ya,Mas. Oh ya, saya juga ikut belasungkawa atas wafatnya Pakdhe Anda (Bp. Soehoed) nggih. Semoga arwah beliau diterima dengan manisnya di sisiNya. Lebih dari itu, Bp Soehoed (ini sungguh jujur saya) adalah sosok yang sangat perlu kita teladani. Sejak muda saya termasuk pengagum beliaunya. Tak perlu penjelasan khusus, kita sudah sangat paham sepak terjang beliau, hingga akhir hayatnya masih sempat memikirkan orang banyak, khususnya warga Pomahan dan sekitarnya.
Kembali masalah wesite, bagaimana ya cara untuk meng-link suatu website (misalnya humanisma). Tolong, Mas Akin, kalok Anda masih di depan wordpress,segera di jawab nggih! mumpung saya di PendeksNet, ha ha ha ha… (maaf wong kuno).
8 Maret 2009 pukul 8:21 am
saya tambahkan website wayang lagi ya, pak Kidh.
Tetap semangat.
http://ki-demang.com
@ Ki Sabdopalon: makasih, atas info-info website wayang-wayangan. Wah wah wah saya jadi semlengeren, dan semakin kecil saja di bidang ict. Jebul sudah demikian canggihnya para pecinta wayang bergerak di bidang pelestarian wayang lewat net. Ck ck ck ck,lebih2 info anda tentang Webnya Ki Demang Solokaton. Hemmmh….. bukan main. Terus saya malah jadi ragu je? apa yang bisa saya perbuat untuk wayang? apa nggak namanya saya ini “ngoyoworo” tentang angan-angan saya, nggih? he he he he he he. Tapi saya nggak berhenti kok, Mas. Mbuh model ndeso atau model kampung, yang penting usaha agar ikutan sedikit memberi manfaat buat masyarakat Sulang, dan sokur-sokur untuk masyarakat Indonesia Raya. Sekali lagi sembah nuwun, prend. Saya sekarang nggak ragu lagi masuk di blog humanisma, sebagai mana saya ngebrowsing ke SO, Ladangkata, Sawali Tuhu Setya, Tengku Puteh Dusone, Mbak Hayu Bu Dosen, Jojoncenter, Winsolu, dan lain-lain. Bandane mung nekad tampil sebagai sahabat. Okai? ho ho ho ho ho……. (Ki Dhalang Sulang)
8 Maret 2009 pukul 9:05 am
Amin.
Editor SO kayaknya hari ini (08/03/2009) mau pulang kampung pak Kidh. Nanti biar editor SO sowan ke njenengan aja, ngaturi pirso gimana-gimana cara nge-link dsb tentang blog, dia kan sudah ahlinya, wong dah jadi mainannya sehari-hari. kalo lewat ini agak lama, pak Kidh. Atau nanti saya e-mailkan ke account njenengan tentang hal tersebut. Gitu pak Kidh.
Ini yang saya seneng dari pak Kidh : “selalu bersemangat”.
@Ki Sabdo :Nggih nggih, sembah nuwun. Saya tunggu email anda, pokoknya informasi apapun silahkan. Dengan senang hati saya “keep away” ha ha ha *halah*( Pak Kidh)
12 Maret 2009 pukul 5:42 pm
Saran saya bagaimana klw wayang di Bhs. Indonesiakan. Kami yg berasal dr Sumatera sulit paham ttg wayang versi Jawa. Literatur yg berkembang disini malah murni dari India, kisah Mahabarata dan Ramayana versi India ternyata perbedaan. Abu baru paham akhir2 ini.
@Tengku Puteh: Makasih Tengku, saran Tengku pasti sangat saya perhatikan. Memang wayang perlu dimodifikasi agar tak semakin punah dari bumi Nusantara. Maaf sudah cukup lama saya tak njenguk rendezvous Anda. Ada postingan baru apa, ya, ini saya langsung browsing “sowan” pada Tengku. Salam dari tanah Jawa yang paling pelosok.Semoga silaturahmi kita semakin keren abiz. Sembah nuwun.(Ki Dhalang Sulang)
13 Maret 2009 pukul 4:39 pm
Saya butuh seminggu untuk beberapa kali membaca dan merenungkan tulisan Mas Jup tentang pelestarian wayang ini.. Saya ikut merasa was-was, atas hilangnya wayang dari perbendaharaan pergaulan masyarakat Indonesia hari ini. 40 tahun yang lalu, seorang Guru SD Sulang 1 sudah mengungkap itu, gara2 hampir saja tak ada yang bisa menjawab waktu beliau di kelas bertanya : ” hayoo.. siapa nama Nakula Sadewa waktu masih kecil…?”
Beliau berpesan supaya kalau nonton wayang jangan malah sibuk umbul dan jemeh saja..
Sepuluh tahun terkahir ini was-was saya sudah lebih kepupus.. telat Mas. Wayang jadi terlalu berat dan elit, atau sama sekali asing. Gejala ini melanda dunia internasional, sejak revolusi industri dimulai abad 18. Beberapa pendidik kontemplatif (kali lebih pas : gentur kasutapane) di Kanada dan AS berhimpun mempelajari efek negatif revolusi industri ini. Mereka masih minoritas dan grass root, tetapi memang kata mereka harus begitu bawaannya. Wayang diperkenalkan di beberapa sekolah sejak lebih sepuluh tahun yang lalu di Toronto, sambil di Sulang dan seantero Nusantara kian dipunggungi..
Sekecil apapun, angan-angan pelestarian wayang ini adalah sebuah langkah yang harus diwujudkan. Bukan hanya pelestarian, tetapi ini akan menjadi urun komunitas ini untuk masyarakat luas di masa depan.
Wayang (terutama wayang kulit untuk saya) bukan hanya isi ceritanya. Totalitas pagelarannya itu ngangeni banget.. Sebuah interaksi aneh dari yang terlibat : dhalang, sindhen, nayaga, bahkan penonton.
Tetap nyerat wayang Mas, terutama penghayatan kontemporernya, ala Sindhunata (Anak Bajang Menggiring Angin)… Yang khas Sulang, yang mayoritas muslim.. Tentang manfaatnya, insyaallah bisa disikusikan menyusul.
Saya menemukan cerita wayang berbahasa Indonesia lumayan lengkap di sini:
http://bharatayudha.multiply.com/
Tetapi bagi saya wayang terbaik adalah dipergelarkan, utuh seperti dulu..
Tetap semangat, Mas. Di Bandung ada kok komunitas kueciiill pemerhati wayang, khusunya wayang purwa.
@Mas Hang: Wah, sembah nuwun atas semua motivasi Mas Hang , dan sekaligus informasinya tentang blog wayang di website. Saya langsung browsing ke http://Bharatayudha.multiplay.com (atas petunjuk Mas Hang). Wadhuh, Mas, saya jadi ‘minder’ banget je, he he he. Ternyata di dunia cyber juga banyak diusahakan pelestarian dan pengembangan wayang. Dari web Bharatayudha, saya temukan web lain yang sudah ditaut, antara lain webnya Pitoyo.com, Ki Demang Sokowaten dan lain-lain. Bagus-bangus konten maupun penampilannya. Saya kemudian berfikir, apakah mampu saya berlatah-latah ngikut mbangun blog tentang wayang? (wong ndeso wae kok macem-macem). Namun biarlah, Mas, sambil jalan nyari pengalaman, mudah-mudahan blog model ‘ndeso’ ini tetap ‘nggremet’ meski hanya secepat siput atau bakicot, ha ha ha.
Oh ya,Mas Hang apa sudah punya blog, nggih. Kalok sudah mbok saya dikasih http-nya, biar sambung rasa kita tambah kereeeen abiz. Matur suwun. (Mas Jup)
15 Maret 2009 pukul 12:12 pm
pak bos, lama gak ketemu, maklum lagi sibuk, lhoh kok malah aku yang jawab sendiri> hehehhe
aku juga lagi ngumpulin bahan mau nulis soal sesuatu ada hubungan dikit dengan wayang dan cerita rakyat sih,,,,
aku juga ada link neh…..
http://heritageofjava.com/
http://sabdasudadi.wordpress.com/
@Dusone: Tenkyu banget, pren, atas informasi web-web wayang. Ya Allooooh….. aku tambah semlengeren setelah tahu blog-blog wayangan. Wah! aku jadi terkena sindrom minderwardegheit je Dus. Lha gimana, tiwasan keta-kete ngobsesi blog wayang, jebul sudah kepancal kereta web wayang jauuuuuh banget. Tapi nggak apa-apa, sambil terus belajar…ya belajar terus. Gimana rumahmattaharinya sudah ada postingan puisi belon ya? cvoba tak jenguke, he he he…. sekali lagi makasih.
16 Maret 2009 pukul 9:38 am
Hallo Pak Jup… salut Buat Pak Jup ngeblog abis.. tentang wayang.. Semoga menjadi media positif untuk “nguri-uri” wayang yang ga semua orang peduli… saya ada dalang favorit dari jogja, namanya Ki Hadi Sugito.. “Lucu tenan” hehehe… Sukses untuk Ki Dalang Sulang… !! semoga tetap lestari…
Salam dari Teguh – Semarang (Cah Lor Pasar)
@Mas Teguh Lor Pasar a.k.a Pak Dosen Unes: Wah, wah, wah! konangan rek. Nggih. makasih banget Mas Teguh atas responnya. Mbuh, ini blogger Sulang Online yang “ngujuk-ngujuki” saya untuk bermain-main di cyber, ha ha ha ha (ndilalah rumahnya ya lor pasar semua).
Ki Hadi Sugito? ya, nggak maido, karena Anda khan alumnus Ngayogyokartohadiningrat, he he he. Sekali lagi sembah nuwun Mas, semoga mainan ini banyak bawa manfaat, khususnya bagi warga Sulang biar nggak gaptek gitu loh!
Oh, ya, Mas, sekalian saya dikasih tahu nama blog Anda kalok memang sudah founding. Sokur blognya tentang dunia arsitektur. Pasti kereeeeeen abizzzz, deh. Sulang biar tambah berkibar. (sekedar tambahan info: dalam BBC09 kemaren, ternyata blognya cah2 ndeso Sulang berhasil dinobatkan sebagai Jawara I loh! Silahkan kalok ada waktu luang berkunjung ke Sulang Online, nggih) Sembah nuwun (Ki Dhalang Sulang)
18 Maret 2009 pukul 9:59 am
smentara Blog under construction pak Jup.. iya .. insya alloh menyangkut juga aspek arsitektur… yayaa.. wong-wong sulang udah gaul abis…semoga menambah rating sejarah.. persulangan.. meski dulu pernah trend oleh Mbah Kartosuwiryo… hehe.. Saya juga sering masuk ke OS .. komentar dikit2.. tapi belum masukin posting sich…
Gebyar.. gebyar..
@Mas Teguh rihants: Okai, prend. Saya jadi tambah optimis tentang potensi generasi muda Sulang. Monggo, Mas Teguh, kita berbagi cerita, obsesi, pengalaman, dan idam-idaman. Anda juga termasuk salah satu dari pemicu ‘gumregahnya’ warga Sulang tentunya. Semoga warga Sulang makin gaul yang positif, nggih. Sembah nuwun atas info wordpressnya. Saya langsung ngebrowsing (he he he, mbuh bahasa apa ini) meski saya nggak mudheng blas masalah teknik sipil apalagi arsitektur, tapi saya yakin akan bermanfaat ‘tenin’. Lebih-lebih untuk blogger Sulang yang masih junior2.
Salam hangat buat sang istri yan putri Banyuwangi bersama moniknya, nggih! (sudah bisa apa ya, cucu saya?). (Ki Dhalang Sulang)
25 Maret 2009 pukul 4:11 pm
bCDsZK fccbkrijhvlg, [url=http://hsgfjrhauvka.com/]hsgfjrhauvka[/url], [link=http://ygrzuuhbamaw.com/]ygrzuuhbamaw[/link], http://enhbbkgnzqtm.com/
26 Maret 2009 pukul 8:36 pm
A3X5c6 rmfsztacxfxe, [url=http://nwspwunwxufb.com/]nwspwunwxufb[/url], [link=http://ggmbwperieqt.com/]ggmbwperieqt[/link], http://sopldcqdbagc.com/
29 Maret 2009 pukul 8:37 pm
tGOsx5 dipwdnqgiqev, [url=http://putoasuwdpuh.com/]putoasuwdpuh[/url], [link=http://zvrgpwyweced.com/]zvrgpwyweced[/link], http://sxhzmigexjkb.com/
2 April 2009 pukul 4:24 pm
Membaca tulisan Pak Kid yang menyiratkan niat mulia untuk meng-up kembali keberadaan wayang agar tetap lestari sebagai identitas budaya bangsa, saya seolah tertampar.
Kok dulu di hati saya tak sedikitpun tertarik sama yang namanya wayang. Maklum Pak, masalahnya cuma satu, kendala bahasa. Susah memahami dialog pewayangan. Bahasa tingkat tinggi, beda dengan bahasa pergaulan keseharian. Jadinya yo “ga mudeng” cerita apa yang sedang dibawakan. Terlebih dulu bencinya minta ampun kalo ada pelajaran bahasa daerah. Adanya kasta dan etika dalam bertutur bahasa jawa itu lho Pak Kid yang nggawe mumet. Gimana ngomong ngoko kasar, ngoko alus, kromo madya, kromo alus, kromo inggil…jan angel tenan. Lebih gampang belajar English. Hehehe…
Saya langsung ingat jaman masih SD. Saya pernah nyelonong masuk ruang pedhalangannya saat Pak Kid masih tinggal di rumdin SD 04. Saya mainkan wayang-wayangnya yang tertata di gedebog pisang di depan keber (hehe…apa sih namanya Pak Kid?). Lucunya, tak ada satupun nama wayang yang saya kenali. Mbuh mana yang arjuna, gatotkaca, bimo, bagong…
Smoga di blog Pak Kid ini saya bisa menemukan kembali pesona dan daya tarik dunia wayang, yang konon mengajarkan falsafah hidup yang adiluhung.
@Cintanismara/Mas Didik Salambanu: Hua ha ha ha ha! Iya ya, saya jadi ingat ketika Mas Didik saya “setrap” untuk menulis dan menulis terus di papan tulis untuk menggantikan tugas saya. Jebul ada manfaatnya ya, Mas. He he he. Jujur saja saat itu saya nggak terlalu “ngawur” loh untuk menugasi Mas Didik sebagai sekretaris saya. Ada sesuatu potensi yang menarik, sehingga dengan cara saya sendiri (yang barangkali cenderung otoriter) untuk “nggembleng” Mas Didik. Ya, sayang sekali saat itu saya kelupaan tentang efektivitas pembelajaran bahasa dan sastra Jawa untuk Mas Didik, dkk. Abiz pada saat itu (hingga saat ini) mapel sastra dan bahasa Jawa kan masih dinomorduakan kastanya. (Maaf) jangankan para siswanya, sedang Pak/Bu Gurunya saja kurang antusias sih. Entah apa masalahnya ya? Pada umumnya kok merasakan bahwa belajar/mengajar bahasa Jawa (termasuk sastra dan seni budaya) lebih sulit dibanding bahasa-bahasa lainnya. (Untuk yang satu ini mudah2an ada pakar yang mau menelitinya) Salam saya buat Mas Didik sekeluarga. (Ki Dhalang Sulang)
3 April 2009 pukul 7:47 pm
pak Kidh, bulan ini (April 2009) National Geographic (edisi Indonesia) memuat tentang pelestarian wayang. kayaknya menarik, tapi saya sendiri belum baca sih. kalo NG memuat, pastinya fotonya bagus-bagus. fotografernya dari jogja : dwi oblo.
ayo… tetap semangat.
@Hunanisma/Ki Sabdopalon: Okai. sembah nuwun infonya. Langsung tancap ngebrowsing, he he he. Nanti coba saya jenguk juga teras humanisma, dah ada aksesoris baru belum ya. Tnks. (Ki Dhalang Sulang)